Melakukan penentuan HS Code secara akurat merupakan langkah krusial bagi setiap importir untuk memastikan kelancaran arus barang di pelabuhan. Dalam Panduan Teknis Penentuan HS-Code Barang Impor yang Tepat, kita akan membahas strategi klasifikasi pabean yang tepat agar operasional bisnis Anda tetap efisien dan patuh terhadap regulasi yang berlaku.”

Panduan Teknis Penentuan HS-Code Barang Impor yang Tepat. Menentukan kode HS (Harmonized System) yang tepat adalah fondasi utama dalam kegiatan impor.Kesalahan dalam memilih HS Code dapat berakibat serius, mulai dari kekurangan pembayaran bea masuk, pengenaan sanksi administrasi, hingga penahanan barang di pelabuhan. Namun demikian, dalam praktiknya penetapan HS Code kerap dilakukan berdasarkan kebiasaan dan asumsi, bukan melalui proses interpretasi HS yang sesuai ketentuan.
Artikel ini akan membahas cara menentukan HS Code secara akurat, logis, dan sesuai aturan kepabeanan.
Apa Itu Kode HS (HS Code)?
HS Code adalah sistem klasifikasi barang internasional yang digunakan hampir di seluruh dunia.
Di Indonesia, HS Code dikenal sebagai Kode HS / Klasifikasi Barang yang mengacu pada BTKI (Buku Tarif Kepabeanan Indonesia) Tahun 2022.
Struktur HS Code:
- 2 digit : Bab
Menunjukkan kelompok besar jenis barang( Bab 1 s.d. 97 + 98,99)
Contoh :
Bab 84 = Mesin dan peralatan mekanik - 4 digit : Pos
Menjelaskan jenis barang secara lebih spesifik, berlaku secara internasional.
Contoh :
8408 = Mesin diesel - 6 digit : Subpos (standar internasional)
Merupakan HS Code standar internasional, digunakan oleh seluruh negara anggota WCO.
Contoh:
8408.10 = Mesin diesel untuk kapal - 8 digit : Subpos nasional (Indonesia)
Merupakan pengembangan nasional/ASEAN. Digunakan untuk penetapan tarif dan kebijakan di Indonesia
Contoh:
8408.10.10 = Mesin diesel untuk kapal tertentu (sesuai uraian BTKI)
Kenapa Menentukan HS Code Harus Akurat?
Kesalahan HS Code bisa menyebabkan:
- Salah tarif bea masuk
- Salah PPN/PPnBM
- Salah kewajiban larangan & pembatasan (Lartas)
- Potensi SPTNP dan sengketa kepabeanan
π Ingat bro: Bea Cukai menilai berdasarkan HS Code, bukan nama barang versi importir.
Panduan Dan Langkah Teknis Penentuan HS-Code yang Tepat :
1. Identifikasi Karakteristik Barang
Jangan cuma tahu nama dagangnya, wajib melakukan identifikasi barang, meliputi :
- Material : Terbuat dari bahan apa?
- Fungsi : Untuk apa barang tersebut digunakan?
- Bentuk : Apakah barang dalam keadaan mentah, setengah jadi, atau siap pakai?
π Kesalahan paling sering: pakai HS Code dari invoice supplier tanpa verifikasi.
2. Tentukan Bab (Chapter) yang paling sesuai
HS Code dibagi menjadi 99 Bab.
Contoh:
- Bab 1 : Binatang Hidup
- Bab 39 : Plastik dan barang daripadanya
- Bab 61-62 : Pakaian dan aksesories pakaian Bab
- Bab 72 : Besi dan Baja
- Bab 73 : Barang dari besi atau baja
- Bab 85 : Mesin
Cari bab yang fungsi barangnya paling dominan, bukan sekadar bahannya.
3. Pahami Catatan Bagian dan Catatan Bab
Ini adalah langkah yang sering dilewati. Sebelum melihat deskripsi barang, baca Catatan Bagian dan Catatan Bab. Catatan ini memiliki kekuatan hukum untuk menentukan apakah suatu barang “termasuk” (inclusion) atau “dikeluarkan” (exclusion) dari bab tersebut.
Ini aturan mainnya. Catatan bab menjelaskan :
- Barang yang termasuk
- Barang yang dikecualikan
- Perbedaan antar pos
β Banyak sengketa kepabeanan terjadi karena catatan bab diabaikan.
4. Penerapan KUMHS secara Berurutan
Jika klasifikasi belum jelas, gunakan Ketentuan Umum Menginterpretasi Sistem Harmonis (KUMHS). Aturan ini harus digunakan berurutan :
- KUMHS 1 : Dasar Klasifikasi Barang
Barang ditentukan berdasarkan uraian pos tarif dan catatan bagian atau catatan bab.
Judul bagian dan judul bab hanya sebagai petunjuk, bukan dasar hukum.
π Artinya : yang berlaku adalah teks pos dan catatan, bukan judul babnya. - KUMHS 2 : Barang Tidak Lengkap dan Campuran
KUMHS 2a
Barang yang belum lengkap atau belum dirakit, tetapi sudah memiliki karakter utama, diklasifikasikan sebagai barang jadi.
KUMHS 2b
Barang yang terbuat dari campuran bahan atau kombinasi bahan diklasifikasikan sesuai aturan selanjutnya (KUMHS 3). - KUMHS 3 : Barang Masuk Lebih dari Satu Pos
Jika barang dapat diklasifikasikan ke lebih dari satu pos, maka :
KUMHS 3a : pilih pos dengan uraian paling spesifik
KUMHS 3b : jika campuran, klasifikasi berdasarkan karakter utama
KUMHS 3c : jika masih tidak bisa ditentukan, pilih pos dengan nomor terbesar
π Ini KUMHS yang paling sering dipakai di lapangan. - KUMHS 4 : Barang yang Tidak Diatur Secara Spesifik
Jika barang tidak bisa diklasifikasikan berdasarkan KUMHS 1β3, maka diklasifikasikan ke pos barang yang paling menyerupai.
π Dipakai untuk barang baru atau teknologi baru. - UMHS 5 : Kemasan dan Wadah
KUMHS 5a
Wadah khusus (hard case, tool box) yang dirancang khusus untuk barang tertentu dan digunakan berulang, diklasifikasikan bersama barangnya.
KUMHS 5b
Kemasan biasa (karton, plastik, botol) diklasifikasikan bersama barangnya, kecuali jika kemasan tersebut memberi karakter utama. - KUMHS 6 : Penentuan Subpos
Klasifikasi pada tingkat subpos (digit ke-6 dan seterusnya) dilakukan dengan membandingkan uraian subpos dan catatan subpos terkait, dengan tetap mengacu pada prinsip KUMHS sebelumnya.
π Intinya : KUMHS 6 dipakai saat menentukan detail akhir HS Code.
“Ingin lihat contoh praktiknya ? Baca: Studi Kasus Klasifikasi Kapal Ferry Ro-Ro“.
5. Gunakan Referensi Resmi, Bukan Tebakan
Referensi yang bisa digunakan :
- Explanatory Notes to the Harmonized System (EN)
Catatan-catatan penjelasan dan interpretasi atas legal notes serta uraian pos pada HS. - The Alphabetical Index
Klasifikasi berbagai jenis barang yang diurutkan berdasarkan alfabet. - The Compendium of Classification Opinions
Kumpulan keputusan HS Committee terhadap dispute klasifikasi di antara negara anggota - The Harmonized System Commodity Database
Gabungan referensi di atas dalam bentuk database
π« Hindari: copy HS Code dari Google tanpa dasar.
Tips lain untuk menghindari kesalahan Kode HS :
1. Gunakan Hasil Putusan Banding Kepabeanan (Jika Ada)
Untuk barang abu-abu, cek studi kasus atau putusan banding yang sejenis .
Manfaatnya :
- Menghindari salah tafsir
- Memahami sudut pandang Bea Cukai
- Memperkuat argumentasi jika terjadi pemeriksaan
2. Mengajukan PKSI
PKSI adalah Pemberitahuan Klasifikasi Sebelum Impor. PKSI merupakan permohonan resmi kepada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang diajukan oleh importir sebelum kegiatan impor dilakukan, untuk memperoleh penetapan klasifikasi barang (HS Code) secara tertulis.
Penutup
Menentukan HS Code bukan soal hafalan, tapi logika, pemahaman barang, dan kepatuhan aturan. Importir yang paham HS Code akan:
- Lebih aman
- Lebih efisien
- Lebih siap saat audit kepabeanan
Dengan menguasai Panduan Teknis Penentuan HS-Code Barang Impor yang Tepat dapat menghindarkan perusahaan dari risiko finansial.
Kalau ragu, lebih baik bertanya sebelum impor daripada berdebat setelah barang tertahan.
Untuk memudahkan penentuan HS Code, dapat dilakukan secara online melalui situs INSW
Baca Juga : Keberatan dan Banding Bea Cukai Link INSW
Pingback: Pengantar FTA Indonesia : Daftar Perjanjian Dagang & Manfaatnya
Pingback: Mengenal Nilai Pabean : Panduan perhitungan Bea Masuk & PDRI